Resmi Dirilis, Kompol Mukid Luncurkan Tembang Jawa “Trisno Godhong Koro”

polres pacitan
Wakapolres Pacitan Kompol Mochammad Mukid (kanan) bersama Kapolres Pacitan (kiri). (indobk.com/bk)

PACITAN, IndoBK.com — Di tengah kesibukannya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Wakapolres Pacitan Kompol Mochammad Mukid terus menunjukkan sisi kreativitas yang mendalam.

Perwira menengah yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kasat Resnarkoba Polres Jombang ini dikenal aktif melahirkan karya musik bernuansa sosial, moral, dan humanis di sela-sela mengemban tugas kepolisian.

Bacaan Lainnya

Rekam jejak bermusik Kompol Mukid bukanlah hal baru. Sebelumnya, ia telah melahirkan berbagai karya lintas genre, mulai dari tembang religi hingga lagu ajakan anti-narkoba. Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah single “Berdusta” yang ia bawakan bersama grup musik D’Cobra sebagai sarana edukasi bahaya penyalahgunaan obat-obatan terlarang kepada generasi muda.

Ia juga pernah merilis lagu persembahan bertajuk “Ibuku” untuk mengenang mendiang Ani Yudhoyono.

Kini, sosok polisi multitalenta tersebut kembali memperkaya khazanah musik Tanah Air dengan merilis tembang terbarunya bertajuk “Trisno Godhong Koro”.

Lagu bertema kisah asmara ini syarat akan makna kiasan lokal yang sarat arti. Melalui bait-bait liriknya, Kompol Mukid mengangkat kisah kekecewaan seseorang akibat cinta yang tak berbalas serta keteguhan hati dalam menghadapi kepedihan hidup.

Judul Trisno Godhong Koro menggunakan metafora daun kecipir (godhong koro) yang berukuran kecil dan tipis.

Kiasan ini menggambarkan kasih sayang atau rasa cinta dari seseorang yang sangat minim, rapuh, dan mudah sirnah begitu saja (“Tresnomu sak godhong koro, tipis cilik gampang musno”).

Secara garis besar, lagu ini menceritakan perjalanan emosional berikut:

Pertemuan di Tengah Kesulitan: Menggambarkan awal mula kehadiran seseorang yang datang meminta perlindungan di saat sulit (diibaratkan menumpang berteduh saat hujan deras dengan pakaian basah kuyup).

Pengorbanan yang Sia-Sia: Meski telah diberikan perhatian, waktu, dan pengorbanan penuh, ketulusan tersebut justru dibalas dengan pengkhianatan karena sang kekasih memilih memberikan hatinya kepada orang lain.

Janji dan Pengingkaran: Mengangkat rasa kehilangan atas ingkar janji manis untuk saling mendampingi dalam suka maupun duka.

Kepasrahan kepada Tuhan: Lagu ini ditutup dengan nada kepasrahan dan keteguhan spiritual (“Duh Gusti sing ngatur jagat iki, kuatne ati ben iso nglakoni”). Tokoh dalam lagu memohon petunjuk dan ketabahan kepada Sang Pencipta agar diberikan ketenangan hati dalam merelakan kesedihan.

Melalui karya Trisno Godhong Koro, Kompol Mochammad Mukid tidak hanya menyalurkan bakat seninya, tetapi juga menyampaikan pesan moral bahwasanya kejujuran dan ketulusan adalah fondasi utama dalam hubungan, serta pentingnya berserah diri kepada Tuhan saat menghadapi cobaan hidup. (bk/jal)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *